Museum Pos Indonesia | Museum Bersejarah di Bandung yang Terkenal

Museum Pos Indonesia – Museum Pos Indonesia Bandung adalah bagian dari Gedung Kantor Pusat POS Indonesia yang membentuk sudut sebesar 45 derajat terhadap Gedung Sate, kemudian pertemuan garis sumbu kedua sayapnya simetris membentuk sudut 90 derajat.

Gedung Kantor Pusat Pos Indonesia di Bandung didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 27 Juli 1920 dengan luas bangunan sekitar 706 meter persegi. Sedangkan Museum Pos, Telegraph dan Telepon (PTT) baru didirikan dan dibuka pada tahun 1931, terletak di sayap kanan gedung pos pusat.

Bentuk bangunan nya yang kental dengan nuansa eropa nan unik ini didesain oleh J. Berger dan Leutdsgeboulwdienst. Nuansa Eropa yang kental inilah yang mungkin membuat kesan Museum Pos Indonesia angker.

Sejarah Museum Pos Indonesia

Sejarah Museum Pos Indonesia berdiri sebelum Indonesia meraih kemerdekaan, yaitu pada tahun 1931 dengan nama Museum Pos Telepon Telegrap (PTT). Awalnya museum ini didesain oleh duo arsitek bernama J. Berger dan Leutdsgebouwdienst.

Pada saat perpindahan kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda ke Jepang, Museum PTT dan koleksi benda di dalamnya tidak terawat dengan baik. Bahkan setelah Indonesia merdeka pun, museum ini tidak kunjung diperbaiki dan barang koleksi museum dibiarkan terbengkalai.

Hingga pada tahun 1980, Perum Pos da Giro mengambil inisiatif untuk membentuk panitian yang ditujukan untuk memperbaiki dan merawat benda-benda koleksi museum yang bernilai tinggi.

Karena menyadari akan pentingnya peran dan fungsi museum ini untuk sarana pendidikan, informasi, dan rekreasi bagi generasi muda pada masa sekarang maupun mendatang, maka upaya untuk merenovasi museum ini pun dilakukan supaya dapat memelihara dan melestarikan kekayaan warisan budaya dalam pelayanan pos.

Tepat pada Hari Bhakti Poste ke-38, tepatnya pada tanggal 27 September 29183, Museum PTT akhirnya diubah namanya menjadi Museum Pos dan Giro. Peresmian museum dilakukan oleh Achmad Tahir, Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada masa itu.

Bagi para penggemar ataupun peneliti filateli, Museum Pos dan Giro menjadi suatu tempat yang wajib dikunjungi. Pada tahun 1995, museum ini diubah kembali namanya menjadi Museum Pos Indonesia hingga sekarang.

Berbeda dengan sejarah Museum De Mata dan sejarah Museum Batik Pekalongan, Museum Pos Indonesia memiliki ribuan koleksi perangko dari seluruh penjuru dunia. TIdak hanya perangko saja, tetapi benda-benda pos lainnya seperti timbangan surat dan sepeda pak pos juga turut diperlihatkan.

Perkembangan baju dinas dan peralatan pos dari zaman kolonial hingga sekarang juga dapat dijumpai di museum yang terletak tepat di samping Gedung Sate ini.

Pada bagian lain dari Sejarah Museum Pos Indonesia, ada koleksi lain yang dipamerkan, yaitu surat emas. Surat emas ini merupakan surat dari berbagai raja-raja Nusantara kepada para Komandan dan Jendral Belanda. Surat emas ini menjadi catatan sejarah perkembangan surat menyurat di tanah air.

Melalui surat-surat ini, pengunjung bisa melihat cara komunikasi raja-raja di Nusantara dengan para penjajah. Umur surat-surat emas yang pernah berada di salah satu museum di Inggris sebelumnya ini diperkirakan berkisar ratusan tahun yang lalu.

Inggris menyimpan surat-surat berharga raja-raja Nusantara pada asa itu karena hampir semua surat yang dipamerkan memang ditujukan kepada Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Bingley Raffles.

Pada saat pengunjung menginjakan kaki ke dalam museum, mereka akan disambut dengan replika perangko pertama Hindia Belanda yang diterbitkan pada 1 April 1864 dengan gambar wajah WIllen III. Ada 3 benda koleksi yang dibagi di dalam museum ini, yaitu koleksi sejarah, filateli, dan peralatan.

Yang termasuk dalam koleksi sejarah merupakan surat emas raja (golden letter) yang telah dijelaskan sebelumnya, dimana surat ini memiliki 2 tujuan, yaitu memperingati lebih dari empat ratus tahun hubungan Inggris dengan Indonesia dan sebagai penghormatan terhadap keragaman dan kekayaan budaya tulis dan sarana komunikasi tradisional di Indonesia.

Surat-surat ini ditulis dengan bahasa daerah dan menggunakan wahana tulis berupa kertas, daun lontar dan nipah, kulit kayu, bamboo, perunggu, dan bahkan emas. Simak juga sejarah Museum Geopark Batur.

Berbagai perangko dari seluruh dunia pun dipajang di dalam museum ini. Seluruh koleksi filateli ini disusun dengan sangat rapi dalam bentuk album, dan ada juga yang disimpan dalam vitrin berdiri.

Peralatan pos seperti bis surat, timbangan surat, timbangan paket, gerobak alat angkut pos, mesin stensil, dan mesin hitung merupakan beberapa peralatan yang dapat ditemukan di museum ini. Bis surat pada masa itu biasanya diletakkan di tempat-tempat strategis, sehingga pengirim cukup memasukkan suratnya ke dalam bis ini dan tidak perlu mengunjungi kantor pos untuk mengirim surat.

Gerobak alat angkut pos untuk barang dan surat ini konon digunakan oleh Kantor Pos Maluku pada masa kolonial Belanda, sekitar tahun 1870. Adapula sepeda beroda dua merk Falter buatan tahun 1938 yang digunakan untuk mengangkut barang pos dari stasiun kereta api.

Sepeda ini digunakan sekitar tahun 1950-an. Selain itu, ada juga diorama-diorama yang menggambarkan kegiatan pos pada masa itu seperti diorama Pos Keliling Desa. Simak juga sejarah Museum Bajra Sandhi.

Misteri Museum Pos Indonesia

MUSEUM POS 2

Tentunya semua gedung tua yang ada di dunia ini memiliki suatu misteri atau kejadian yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Hal ini juga terjadi pada Museum Pos Indonesia yang sempat menggetarkan wisatawan.

Banyak yang mengatakan bahwa ketika mereka menginjakkan kaki ke museum ini, suasanya berbeda dapat langsung dirasakan, seperti hawa dingin yang langsung menerpa tubuh. Seorang penjaga Museum Pos Indonesia kerap mengatakan bahwa di museum ini cukup sering terjadi peristiwa aneh dan penampakan makhluk halus.

Dikatakan bahwa terkadang ada penampakan sosok perempuan di dekat patung, ataupun sesosok seorang pria yang sedang duduk di pintu masuk. Mereka diketahui suka menampakkan diri pada pengunjung meskipun tidak penah mengganggu para penjaga malam yang kerap menjaga museum itu.

Simak juga sejarah Museum Diponegoro. Bangunan tua ini memang menyimpan banyak misteri, tetapi hal ini tentunya tidak menakutkan, dimana tidak ada berita mengenai pengunjung yang terganggu dengan adanya sosok mahkluk ini.

Meskipun museum ini merupakan gedung yang terbilang gedung lama, koleksi yang disimpan di dalam museum ini memang tidak dapat ditandingi.

Inilah sejarah dan informasi singkat mengenai Sejarah Museum Pos Indonesia Bandung. Semoga inforasi ini bermanfaat dan membuat anda tertarik untuk mengunjungi museum ini.

Tidak perlu takut akan misteri yang ada di dalamnya, selama anda tidak mengganggu dan menjaga ucapan, tentunya anda dapat menikmati koleksi museum ini dengan tenang.

Baca Juga : Rumah Sosis Bandung | Review, Harga dan Daya Tarik Terbaru 2022

Baca Juga : Mengenal Sejarah Destinasi Wisata Museum Pos Indonesia Bandung

Daya Tarik Museum Pos Indonesia

MUSEUM POS 3

Dari depan terlihat Museum Pos Indonesia Bandung, dengan anak tangga menuju ke teras museum. Di samping anak tangga ini terletak bis surat kuno dengan tulisan berbahasa Belanda.

Untuk memasuki Museum Pos Indonesia, setelah meniti anak tangga anda kemudian menyusuri lorong menuju ke arah sebelah kiri.

Pada lorong teras Museum Pos ini terletak Patung dada Mas Soeharto, beliau merupakan Kepala Jawatan PTT (Pos Telegrap dan Telepon) Indonesia yang pertama. Patung tersebut dibuat pada tahun 1983 oleh Abdul DjalilPirous.

Mas Soeharto ini tidak diangkat oleh pemerintah, melainkan oleh Soetoko yang mewakili Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon yang secara heroik dapat merebut Gedung Kantor Pusat PTT Bandung dari tangan pemerintah jepang pada tanggal 27 September 1945.

Peristiwa bersejarah pada tanggal 27 September 1945 itu kemudian diperingati setiap tahun nya sebagai Hari Bhakti Postel.

Kisah yang menunjukkan semangat perjuangan dalam menegakkan kedaulatan RI oleh Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon itu dapat anda baca di situs Dirjen Postel.

Diorama ukuran utuh di Museum ini memperlihatkan petugas Pos berkeliling Desa, yang lengkap dengan seragam, motor, helm dan kotak surat nya, sedang berada di kantor Desa Sukawenang, Ciwidey, Bandung Selatan.

Terdapat pula koleksi gerobak pos dengan roda kayu besar, juga bis-bis surat dari jaman kolonial hingga jaman Republik Indonesia.

Koleksi lain yang cukup menarik adalah The Penny Black, yaitu merupakan perangko pertama di dunia yang dahulu diterbitkan oleh Pemerintah Inggris pada tanggal 16 Mei 1840 dengan lukisan Ratu Victoria.

Kemudian terdapat pula foto Sir Rowland Hill, beliau adalah penggagas pemakaian prangko sebagai pengganti biaya tunai pengiriman surat yang dibayar oleh pengirim surat. Juga terdapat koleksi perangko pertama yang ada di Hindia Belanda yang diterbitkan pada tanggal 1 April 1864 dengan gambar Raja Willem III.

Setelah kemerdekaan Indonesia, keberadaan Museum Pos ini sempat tidak terurus selama kurang lebih 35 tahun, dan baru pada tahun 1980 dibentuk panitia oleh Direksi Perum Pos dan Giro untuk menghidupkan kembali museum ini.

Pada tanggal 27 September 1983, bersamaan dengan peringatan hari Bhakti Postel, museum secara resmi dibuka kembali untuk umum dan diberi nama Museum Pos dan Giro.

Peresmian Museum Pos dan giro ini dilakukan oleh Achmad Tahir. Beliau merupakan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Menparpostel) pada waktu itu. Hingga kemudian pada tanggal 20 Juni 1995 nama museum dirubah menjadi Museum Pos Indonesia.

Kemudian terdapat lemari tarik di sebelah kiri tempat penyimpanan koleksi prangko yang berjumlah puluhan ribu di Museum Pos Indonesia. Banyak koleksi perangko dari seluruh Indonesia juga berbagai negara lain yang sangat bersejarah, berjumlah hingga 131.000.000 keping perangko.

Kemudian ada juga 200 koleksi peralatan pos kuno. Dikelola di bawah naungan PT. Pos Indonesia Persero, sebagian koleksi perangko dipamerkan dalam papan papan kayu yang dilindungi kaca.

Lalu di ujung ruangan Museum Pos Indonesia Bandung tertempel cukup banyak poster yang berisi mengenai riwayat menarik tentang Surat Emas dari raja-raja juga naskah Nusantara yang dikoleksi oleh pemerintah Inggris.

Umur dari surat surat emas yang sebelumnya disimpan di salah satu museum di Inggris ini diperkirakan telah berumur ratusan tahun. Inggris menyimpan surat-surat berharga dari raja-raja nusantara karena memang hampir semua surat emas yang dipamerkan ini ditulis para raja untuk Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Bingley Raffles.

Diantara koleksi tersebut adalah surat emas dari Kesultanan Riau, Kesultanan Pontianak, juga poster yang menggambarkan riwayat seni sungging di dalam naskah-naskah Jawa kuno. Museum Pos ini juga menyimpan berbagai koleksi sepeda pos yang terlihat antik dan unik.

Sepeda pos tersebut digunakan pada sekitar tahun 1950-an untuk mengantarkan paket, karena terdapat kotak segi empat di atas roda depan sepeda tersebut. Sepeda merk Falter yang dibuat pabrikan Jerman Barat pada tahun 1947 tersebut kabarnya di Indonesia jumlahnya hanya kurang dari 100 buah.

Kemudian ada Tugu Peringatan Pahlawan PTT tahun 1945 sampai tahun 1949 yang terletak di halaman museum.

Peletakan tugu tersebut dibuat persis di tempat dimana dahulu bendera merah putih dikibarkan pada saat Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon berhasil merebut Gedung Kantor Pusat PTT tersebut pada tanggal 27 September 1945.

Di bagian bawah tugu Peringatan Pahlawan PTT itu tertulis puisi Chairil Anwar. Kemudian di atasnya, terdapat nama-nama para pahlawan Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon, diantaranya Imang, Goenawan, Mohammad Rapik, Maskat, Paimin, Sangadan, Satmoko, Soepa’at, Soemardjono, Soeprapto, Soepojo, juga Soetojo, dan lainnya yang diukir pada batu.

Harga Tiket Masuk

MUSEUM POS 4

Museum Pos Indonesia buka dari hari Senin hingga Jum’at pukul 09.00-16.00 wib, Sabtu 09.00-13.00 wib, sedangkan untuk hari Minggu libur. Untuk masuk Museum Pos Indonesia, pengunjung tidak dikenakan biaya, alias gratis.

Alamat Museum

MUSEUM POS 5

Jl. Cilaki No.73, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115

Tinggalkan Balasan